“Bulan Ramadhan Jangan Disambut Sebagai Bulan Yang Penuh Dengan Beban”

PDIA & PMIA JAFEB UB Terakreditasi “A”
28 June 2012
FEB UB Rancang Hubungan Kemitraan dengan Media Massa
1 July 2012

Sabtu (30/6) bertempat di Cafe Niki Kopitiam, Malang telah diselenggarakan silahturahmi Ikatan Warga Jurusan Manajemen (IWJM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB). Dihadiri oleh seluruh dosen Jurusan Manajemen FEB UB, kegiatan ini ditujukan untuk menyambut bulan penuh berkah, Bulan Suci Ramadhan.

“Bulan Ramadhan jangan disambut sebagai bulan yang penuh dengan beban, karena kita harus menahan lapar dan dahaga serta hawa nafsu. Tapi, jadikan Bulan Ramadhan sebagai bulan suka cita, karena pada Bulan Ramadhan banyak pahala yang dapat kita raih, “ ungkap Drs. Khusnul Fathoni, MA, penceramah agama. Dituturkan pula oleh Dosen Agama UB ini  bahwa di Bulan Ramadhan banyak amalan yang membawa kita pada pintu surga. “Sedikitnya ada 5 tiket surga yang dapat kita raih di Bulan Ramadhan apabila kita mengamalkan hal-hal seperti menjalankan ibadah puasa, membaca Al-Quran, memberi makan orang yang sedang berpuasa (sahur dan buka), memelihara lisan dan sabar. Sayang sekali bila kita tidak memanfaatkannya,” tambahnya.

Lebih lanjut, Drs. Khusnul Fathoni, MA juga memaparkan beberapa hal yang dapat membatalkan puasa, yang telah umum diketahui oleh orang muslim seperti makan dan minum. “Kita semua telah mengetahui hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Tapi terkadang umat muslim lebih takut pada hal yang membatalkan syariat puasa dan mengabaikan hal yang dapat membatalkan hakekat puasa. Terdapat hal-hal yang dapat membatalkan hakekat puasa yaitu berkata bohong, sumpah palsu, menggunjing, mengadu domba, dan melihat sesuatu dengan hawa nafsu. Makan daging babi jelas haram hukumnya dan hal itu termasuk haram syariat. Membeli daging ayam, tapi dengan uang yang tidak halal, hal tersebut juga haram hukumnya atau haram hakekat, “ jelas Drs. Khusnul Fathoni, MA memberikan contoh untuk membedakan syariat dan hakekat.

Memasuki Bulan Syakban, umat muslim hendaknya saling bermaaf-maafan sehingga ketika masuk Bulan Ramadhan hati dan diri telah suci. “Jiwa seorang mukmin ketika menghadap Allah tergantung pada 2 hal yaitu tergantung pada kesalahan dan hutang piutang yang dimilikinya, “ jelas Drs. Khusnul Fathoni, MA berpesan kepada IWJM untuk saling memaafkan sebelum Bulan Ramadhan tiba. Silahturahmi IWJM tidak hanya dihadiri oleh dosen aktif, namun juga dosen non aktif (pensiun) turut hadir untuk meramaikan kegiatan ini. Usai mendengar siraman rohani, seluruh anggota IWJM yang hadir saling bermaaf-maafan guna mempersiapkan diri menyambut Bulan Ramadhan yang jatuh pada pertengahan Juli. (ris)

Tinggalkan Balasan