BI: Perekonomian Indonesia Membaik di Tahun 2012

PERFECT ENTREPRENEUR DAY: Mempelajari Jiwa Kewirausahaan Harus Mulai Sekarang
25 September 2012
Penutupan Rangkaian PERFECT 2012
29 September 2012

Rabu (26/9) bertempat di Ruang Sidang Lantai 7 Gedung F Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) diselenggarakan Kuliah Tamu Bank Indonesia dengan tema “Kebijakan Moneter Indonesia”. Kuliah tamu yang dihadiri oleh mahasiswa FEB UB ini mengundang Dr Sugeng (Direktur Eksekutif Kepala Grup Kebijakan Moneter Bank Indonesia) sebagai pemateri. Dalam paparan awal, Dr Sugeng memberikan penilaian terhadap perekonomian terkini Indonesia yang semakin membaik dilihat dari beberap indikator yaitu kinerja perekonomian domestik yang masih tetap sejalan dengan kapasitas ekonomi, didukung kuatnya konsumsi dan investasi; neraca pembayaran Indonesia pada triwulan III-2012 diprakirakan mengalami perbaikan; tekanan inflasi masih terkendali meskipun meningkat didorong oleh faktor musiman (hari raya); dan tekanan harga pangan dan tekanan terhadap inflasi nilai tukar Rupiah pada Agustus 2012 yang masih terus berlanjut namun dengan intensitas yang menurun.

Menghadapi kondisi tersebut, Bank Indonesia sebagai bank sentral memberikan respon berupa kebijakan dengan mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% per 13 September 2012. Disamping itu, BI terus melakukan evaluasi terhadap dampak kebijakan yang ditetapkan serta melakukan koordinasi dengan pemerintah dalam mengelola permintaan domestic agar tetap sejalan dengan upaya menjaga kestabilan ekonomi makro dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional. Tidak berhenti pada pemaparan mengenai perekomian Indonesia saat ini, Dr Sugeng turut memberikan pandangan dan perbandingan mengenai perekonomian global dan perekonomian domestik serta kebijakan  Bank Indonesia.

Outlook Ekonomi Dunia

Ditunjukkan oleh Dr Sugeng hasil proyeksi Lembaga Internasional dan Consesus Forecast (CF) untuk tahun 2012 yang dikatakan lebih buruk dari yang diperkirakan. Perekonomian negara-negara yang berpengaruh terhadap perekonomian global seperti AS dan Cina serta negara-negara Eropa masih cenderung rentan dan melemah. Kegiatan produksi EU, mengalami kontraksi meski sedikit membaik. Namun, indikator konsumsi masih melambat karena tingginya pengangguran. Sedangkan untuk kawasan Asia, Dr Sugeng memperlihatkan tren perlambatan pada indeks produksi, khususnya Cina yang tidak sebaik yang diprakirakan. Pada pasar keuangan dan komoditas global, masih rentan. Harga komoditas masih dalam tren menurun meski mulai terbatas.

Perekonomian Domestik

Di dalam negeri, pertumbuhan konsumsi rumah tangga cukup tinggi didukung oleh tingkat kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi dan terkendalinya inflasi. Kegiatan investasi di Indonesia menunjukan posisi yang kuat didukung pembiayaan investasi yang baik dari perbankan atau investasi langsung. Sedangkan untuk kegiatan ekspor, keadaan yang sedikit membaik terjadi karena membaikanya prospek beberapa negara mitra dagang utama, walaupun dibayangi resiko pelemahan perekonomian global. Kondisi industri seperti pengolahan, perdagangan, hotel, restoran, pengangkutan dan komunikasi pada triwulan III 2012 diprakirakan masih tumbuh baik

5 Pilar Kebijakan Bank Indonesia Tahun 2012

Pada akhir presentasinya, Dr Sugeng memaparkan 5 pilar kebijakan Bank Indonesia tahun 2012 yang digunakan sebagai dasar untuk mempertahankan kondisi yang terus membaik dan memperbaiki kondisi yang cenderung rentan dan melemah baik yang dipengaruhi oleh perekonomian global maupun domestik, yaitu mengoptimalkan peran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas makroekonomi, dan mendorong stabilitas pasar keuangan; meningkatkan efisiensi perbankan untuk mengoptimalkan kontribusinya dalam perekonomian, dengan tetap memperkuat ketahanan perbankan; meningkatkan efisiensi, kehandalan dan keamanan sistem pembayaran baik nasional maupun luar negeri; memperkuat ketahanan makro dan stabiltas sistem keuangan dengan memantapkan koordinasi dalam manajemen pencegahan dan penanganan krisis (PMK); serta mendukung pemberdayaan sektor riil termasuk melanjutkan upaya perluasan akses perbankan kepada masyarakat. (ris)

Tinggalkan Balasan