FEB UB Himpun Potensi Sarjana Ekonom Bermutu Tinggi dengan Kajian Riset

Gali Potensi Tenaga Kependidikan FEB UB untuk Capai World Class University
21 February 2018
LEGISLATOR TRAINING DPM FEB UB 2018
22 February 2018

Senin (22/2), digelar acara Dialog Ekonomi dan Bedah Buku (Labour Market and Firm Competitiveness in Indonesia) di Aula Bintuni Gedung F Lt. 7 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas (FEB UB). Acara ini bekerjasama dengan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA). ERIA adalah Internasional Univision yang dibentuk melalui aggrement formal diantara 16 negara di ASEAN dan Asia Timur, 10 negara Asia Timur dari Jepang, India, Jepang, Australia, China, New Zealand, dan South Korea.

“Secara garis besar kami bekerjasama dengan ASEAN sekretariat, peneliti, dan institut penelitian di dunia untuk menyediakan berbagai rekomendasi kebijakan yang berbasis kepada riset yang solid”, sambutan Jaysa Rafi Prana (perwakilan ERIA). ERIA menyambut terbuka bagi para mahasiswa dan dosen FEB UB untuk mengundang diskusi, seminar terkait riset-riset penelitian.

Dua pemateri dihadirkan, Devanto Pratomo, Ph.D. (Ketua Program Studi Program Magister Ilmu Ekonomi FEB UB), Dr. Daniel Suryadarma (SMERU Research Intitute).  Mereka merupakan 2 penulis dari 17 penulis dari buku “The Indonesian Economy: Trade and Industrial Policies” yang khusus di bab “Labour Market and Firm Competitiveness in Indonesia”

Dekan FEB UB, Nurkholis, Ph.D menyampaikan program keterbukaan diri FEB UB melaksanakan kerjasama dengan lembaga-lembaga riset untuk mengadakan kolaborasi riset, penulisan buku bersama, dan lain-lain. Dengan forum-forum kerjasama riset FEB UB menghimpun potensi sarjana ekonomi untuk terlibat aktif dalam kajian-kajian yang bermutu tinggi.

Dalam paparan materi pertama oleh Devanto, Ph.D, menyampaikan Demographic Bonus bagi Indonesia, kondisi pasar tenaga kerja, dan kebijakan ketenagakerjaan di Indonesia. Tenaga kerja Indonesia menjadi isu terpenting di Indonesia dengan tingkat pengangguran terringgi pada penduduk usia muda dan penduduk dengan pendidikan tinggi. Banyak faktor yang mempengruhi penduduk dalam mencari pekerjaan. “Indonesia perlu memanfaatkan sebagian besar peluang yang diciptakan oleh dividen demografis sampai sekitar tahun 2030”, kata Devanto, Ph.D. Hal ini akan menimbulkan tantangan dalam hal penciptaan lapangan kerja dengan populasi usia kerja di Indonesia yang meningkat sebesar 2,5 juta setiap tahun, terbesar di wilayah ini. Dalam hal pasar tenaga kerja, ketidakcocokan yang serius antara keterampilan bekerja yang dihasilkan dalam pendidikan formal dan keterampilan bekerja yang dibutuhkan perusahaan. Selain itu, kebijakan ketenagakerjaan tentang upah minimum telah menyebabkan kenaikan upah minimum yang signifikan dan peningkatan kesenjangan upah minimum antar kabupaten atau provinsi. Upah miminum ini bertujuan untuk melindungi pekerja yang rentan dengan memastikan bahwa ada tingkat upah yang memenuhi standar hidup dasar.

Paparan terakhir Dr. Daniel, menyampaikan pendidikan di Indonesia yang menggunakan sebagaian besar alokasi dana publik untuk Pendidikan dasar. “Hal ini menyebabkan daerah sumber daya mengalami kekurangan”, kata Dr. Daniel.

Tinggalkan Balasan