Tantangan Lesunya Perekonomian

19 April 2017
Category Artikel, Berita
19 April 2017, Comments 0

Tantangan pembangunan bagi Kabupaten dan Kota kedepan akan semakin sulit dengan kondisi global yang masih belum stabil. Perekonomian global saat ini masih tumbuh dengan sangat rendah, sehingga mempengaruhi perekonomian nasional yang belum menunjukan perbaikan yang signifikan. Namun kondisi eksternal yang buruk harus dilihat secara “positif” bahwa “badai pasti berlalu”, dimana kondisi yang buruk akan mendorong perbaikan-perbaikan untuk mengembalikan keadaan menjadi lebih baik. Hal inilah yang saat ini dilakukan oleh pemerintah Indonesia, dimana reformasi struktural dilakukan dengan mempercepat perbaikan infrastruktur, melakukan reformasi birokrasi serta meningkatkan kualitas kebutuhan dasar masyarakat yaitu sektor pendidikan dan kesehatan.

Bagi daerah, lesunya perekonomian nasional tentu berimbas pada perekonomian daerah dan pendapatan masyarakat. Kondisi bisnis saat ini masih “wait and see” dan belum melakukan investasi baru yang besar karena ketakutan dan resiko akan kondisi ekonomi kedepan. Ini adalah kondisi yang paling ditakutkan dalam sebuah perekonomian, dimana kondisi bisnis lesu dan tidak bernafsu untuk berinovasi dan melakukan investasi baru. Oleh karena itu, data statistik yang perlu dipantau dalam sebuah perekonomian selain data pertumbuhan ekonomi dan inflasi adalah data “pembentukan modal tetap bruto” atau PMTB. Data ini menjelaskan berapa investasi baru yang ada didalam suatu wilayah.

Investasi baru yang ada di dalam suatu daerah tentu harus dikelola dengan baik, sehingga investasi tersebut mampu memberikan kontribusi yang positif bagi pembangunan. Dalam konteks ini, pemerintah daerah sebaiknya memberikan sebuah panduan yang lengkap dan informatif terkait dengan “prospek investasi daerah”, serta kemudahan berinvestasi untuk sektor-sektor yang menjadi prioritas pembangunan kedepan. Sehingga, Investasi yang datang ke suatu wilayah akan terfilter dan terseleksi, serta yang paling penting investasi yang baru tidak menjadi “predator” bagi bisnis-bisnis yang telah exist sebelumnya di wilayah tersebut.

Terkait dengan investasi dan dunia bisnis, pemerintah daerah perlu memiliki paradigma yang baik bagaimana menjaga dunia bisnis nyaman untuk melakukan investasi di daerah. Di era kompetisi yang semakin ketat antar daerah, maka perpindahan investasi akan semakin mudah. Dunia bisnis akan mencari tempat terbaik yang mampu memberikan kemudahan investasi, peluang dan kepastian bisnis. Dengan kata lain, mesinnya perekonomian adalah dunia bisnis, oleh karena itu penciptaan atmosfer bisnis yang baik merupakan sebuah keniscayaan dalam membangun daerah. Dukungan pemerintah untuk mendorong atmosfer bisnis ini menyangkut: reformasi birokrasi, transparansi dalam peraturan dan regulasi serta penegakan hukum (law enforcement) khususnya terhadap pungutan-pungutan liar.

Dalam konteks lain, ditengah-tengah lesunya perekonomian maka pemerintah daerah dituntut untuk menggunakan anggaran pemerintah (APBD) secara lebih arif, khususnya dalam mendukung atmosfer bisnis yang baik. Salah satunya dengan melakukan stimulus fiskal melalui kegiatan-kegiatan yang mampu menggerakan ekonomi masyarakat secara langsung. Dalam konteks ini, penggunaan anggaran pemerintah harus mengedepankan “partisipasi” masyarakat, transparan, akuntabel dan dapat dipertanggung jawabkan kembali kepada masyarakat. Sebagai contoh, pemerintah daerah mampu mendorong “multiplier” ekonomi melalui kegiatan festival dan bazzar bagi usaha mikro dan kecil menengah (UMKM) secara kontinyu dengan skala yang lebih besar. Namun, pelaksanaannya tentu harus dirancang sedemikian rupa sehingga mampu mendorong perekonomian sekaligus membangun “city’s branding” wilayah tersebut dengan potensi kebudayaan dan kreatifitas yang dimiliki.

Terakhir, meski kelesuan ekonomi terjadi di level global dan nasional, maupun daerah. Namun pihak yang jarang sekali mengalami kelesuan adalah “anak muda”. Gerakan-gerakan anak muda yang inovatif dan dinamis tentu bisa diwadahi dengan sangat baik oleh pemerintah untuk kegiatan-kegiatan yang positif. Sebagai contoh, beberapa tempat wisata kampung yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan sebelumnya, saat ini telah viral atau dikenal masyarakat secara luas melalui media sosial. Sebut saja, kampung warna warni Jodipan dan hutan pinus di desa sumber putih Kab Malang. Wilayah-wilayah tersebut merupakan contoh yang sangat baik, bagaimana perekonomian masyarakat bisa tumbuh dan berputar. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu merefleksi kembali bagaimana seharusnya peran anak muda dioptimalkan untuk memecah kelesuan yang terjadi saat ini. Intinya adalah bagaimana anak muda diberikan ruang yang tepat bagaimana mereka berkreatifitas, serta berkontribusi bagi masyarakat.

Dias Satria, Dosen FEB UB