Demi Menjaga Ekosistem Laut dan Darat, Tim Sierra berinovasi dengan Sistem Pemusnah Sampah Plastik dengan Output Material Paving Block dan Udara Ramah Lingkungan

Bantu Berdayakan Masyarakat Malang, Mahasiswa FEB UB Siapkan Aplikai E-Tukang Platform Penyedia Jasa Rumah Tangga
28 July 2021
Disable Does’nt Mean Unable : Mahasiswa FEB UB Menciptakan Program Pelatihan Disabilitas “Akselerasi Tunadaksa Berdikari”
28 July 2021

Permasalahan sampah plastik adalah tantangan nyata yang harus dihadapi. Empat orang mahasiswa FEB UB yang tergabung dalam tim Sierra menggangas sebuah sistem pemusnah sampah plastik dengan output material paving block dan udara ramah lingkungan. Sistem ini menggunakan konsep efisiensi daur ulang sampah plastik dengan mengurangi volume sampah plastik menjadi dua bentuk, yakni dibuang ke udara sebagai gas, dan juga dimanfaatkan bubur plastiknya menjadi material komplementer paving block.

Empat orang mahasiswa kreatif tersebut terdiri dari Ariz Wahyu Sampurna (FEB 20), Caroline Nugroho (FEB 20), Melisa Adam Jasmine (FEB 20), dan Muchammad Zuhri Ramadhani Abanan (FEB 19), serta Yenny Kornitasari, SE., ME. (Dosen FEB UB) sebagai dosen pembimbing.

“Nama sistem ini adalah Sierra. Seperti apa sistem ini? Sistem Sierra ini adalah pemusnah sampah plastik dengan output udara dan paving block yang ramah lingkungan. Terdapat tiga tahapan mekanisme kerja pada sistem ini yaitu burning, filtering, dan forming. Pada proses burning dimulai dengan pengumpulan sampah plastik dalam jumlah besar. Setelah terkumpul, sampah plastik akan dibakar pada ruang bakar yang dilengkapi oleh burner atau alat pembakar pada suhu 500ºC – 800ºC”, kata Ariz sebagai ketua tim

Pada umumnya pembakaran plastik akan menimbulkan asap kotor yang dapat mencemari udara, tetapi dalam sistem Sierra ini asap yang timbul akan melalui proses filtrasi melalui electrostatic precipitator agar asap tersebut berubah menjadi udara bersih. Electrostatic precipitator memiliki komponen yang terdiri dari: Roof, High Voltage Transformer-Rectifier Unit, Manhole, Discharge Electrode Rapping Motor, Outlet Nozzle, Manhole, Collecting Electrode, Internal Walkway, Discharge Electrode, Collecting Electrode Rapping Motor, Hopper, Partition Plate of Hopper, Thermal Insulation, Inlet Nozzle, Gas Distribution Screen, dan Discharge Electrode Support Insulator.

“Electrostatic precipitator merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan debu atau abu dari gas. Cara kerja electrostatic precipitator adalah dengan mengalirkan udara kotor pada medan listrik yang berada di antara elektroda yang mempunyai polaritas berlawanan. Gas atau udara yang mengandung debu melewati medan dari tegangan tersebut. Dengan demikian, gas dan udara yang mengandung partikel debu akan dimuati oleh elektron. Potensial listrik dapat mengakibatkan partikel-partikel debu bermuatan elektron berpindah ke arah pelat pengumpul debu (collector plate). Debu yang dikumpulkan di collector plate dipindahkan dengan suatu getaran sehingga debu akan jatuh ke bak penampung (ash hopper). Hasil akhir dari proses ini adalah udara atau gas yang jauh lebih bersih daripada udara kotor hasil pembakaran plastik yang belum diproses”, papar Caroline salah satu anggota tim.

“Proses mekanisme kerja yang terakhir adalah forming atau pembentukan limbah sisa pembakaran sampah plastik. Limbah yang tersisa berupa bubur plastik akan digunakan sebagai material campuran dalam pembuatan paving block. Limbah sisa plastik ini bertujuan sebagai pengganti semen yang digunakan untuk mengikat bahan-bahan lainnya. Proses pembuatan paving block berbahan dasar limbah sisa pembakaran sampah plastik diawali dengan persiapan bubur plastik yang tersedia. Persiapan bahan campuran paving block berupa oli yang sudah dipanaskan hingga 80ºC, hal ini bertujuan untuk mengubah struktur bubur plastik dari yang padat menjadi sedikit cair supaya mudah bercampur dengan bahan yang lain. Campuran tersebut diaduk sampai larut dengan perbandingan 1100 g bubur plastik dan 200 ml oli. Setelah larut, siapkan bahan tambahan seperti batu koral dan pasir, dengan perbandingan 200 g pasir dan 500 g batu koral, sehingga total keseluruhan 2000 g. Setelah semua bahan larut, cetak menggunakan alat cetak paving block. Setelah paving block kering, lepas dari cetakan dam lanjutkan dengan penjemuran. Proses penjemuran dilakukan selama 3-4 hari, guna memperkuat paving block agar tidak mudah pecah dan lebih tahan lama”, papar Melisa salah satu anggota tim.

Atas inovasi sistem itu, mereka mendapatkan pendanaan Ditjen Dikti Kemendikbud. Dalam penerapan sistem ini mereka bekerja sama dengan DLH Kota Madiun untuk merealisasikannya. Untuk memperkenalkan dan memperluas inovasi ini mereka melakukan kampanye di media sosial instagram dengan nama akun @sierraindonesia dan slogan #yourplasticwastesolution.

Di upload oleh : agus widyatama
Di upload oleh : agus widyatama
Pengelola Sistem Informasi, Infrastruktur TI dan Kehumasan