2 Mahasiswi FEB Menjadi Volunteer dalam Program SAWASDEE PROJECT THAILAND 25

Freeport, What’s Next?
4 September 2017
RSM Indonesia Untuk FEB UB
6 September 2017

Dia adalah Khoiro Umma Hanifa (Akuntansi’16) dan Rachel Angeline Marpaung (Akuntansi’15). Alih-alih mengisi liburan panjang semester genap, mereka habiskan waktu di Thailand dengan menjadi voulnteer dalam program SAWASDEE PROJECT THAILAND 25. Progam ini merupakan program yang diadakan oleh AIESEC Assumption University Thailand dan AIESEC Universitas Brawijaya, berlangsung selama enam minggu (21/07-26/08) di Khon Kaen Provice, lebih tepatnya adalah di Nong Pho Pracanukool School. Program ini selain bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Thailand, juga bertujuan untuk memberikan kontribusi kepada United Nations Sustainable Development Goals nomor empat, yaitu quality education yang menfokuskan diri dalam mengirim pertukaran partisipan dari negara yang berbeda untuk mengajar sekolah di area pedesaan Thailand. “Selain itu, program ini juga menjadi platform in learning Thai culture and creating international environment among Thai society,”jelas gadis yang sering disapa Oik ini.

Mereka menjadi volunteer pengajar sekolah dasar bersama dengan volunteer lain yang berasal dari berbagai negara seperti UK, Brazil, India, China, Vietnam, Cambodia, Portugal, Oakland, Redding, Long Beach, Anaheim, dan Indonesia. Untuk menjadi volnteer di luar negeri, pendaftarannya terbuka untuk seluruh mahasiswa Universitas Brawijaya. “Just follow AIESEC official contact and we just need to check on the AIESEC website to know about the exchange opportunities,”tutur Oik.

Saat ditanya alasan memilih program SAWASDEE 25, kedua volunteer ini memberikan jawaban yang berbeda. Oik beralasan karena ingin mengenal budaya baru dan membangun sikap toleransi yang tinggi, adaptabilty, serta proactivity, meningkatkan kemampuan dalam berkomunikasi menggunakan  Bahasa Inggris, dan mendapatkan pengalaman yang bersifat self-development. Sementara Angel  beranggapan bahwa dengan mengajar, kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang itu lebih besar.”Teaching itu sesuatu yang aku gatau atau buta banget, tapi aku pengen coba, dan aku itu orangnya concern banget sama hal-hal yang pemerataan pendidikan, kayak gampang tersentuh gitu”ujarnya.

Di mata volunteer lain, Indonesia adalah negara yang sangat indah. Mereka bahkan berkeinginan untuk menghabiskan waktu liburan di Indonesia suatu hari. orang Indonesia  juga terkesan ramah di mata volunteer lain. Mereka senang menghabiskan waktu bersama orang Indonesia, karena orang Indonesia sangat menyenangkan dan sering tertawa.

Pengalaman ini memberikan banyak pelajaran untuk kedua volunteer ini. Yang pertama, harus sering bersyukur karena mendapatkan pendidikan yang layak dan sempurna dibandingkan dengan pendidikan di Thailand, rendah diri, tidak sombong dan tidak sok tahu, lebih berpikiran terbuka dalam menghadapi setiap masalah dengan mindset yang positif, pentingnya toleransi, lebih fleksibel dalam segala hal, menjadi proaktif daripada menjadi orang yang reaktif. Pengalaman ini juga membuat keinginan keduanya untuk pergi ke luar negeri semakin bertambah.(vq)

Fiki Putri
Fiki Putri
Reporter Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya