Clossing Ceremony, Rangkaian Program ISS FEB UB telah Resmi Ditutup

JM FEB UB Jadi Tuan Rumah Rapat Kerja Nasional dan Workshop APSMBI
21 November 2016
Rekayasa Pembiayaan Inklusif
22 November 2016

Program International Summer School (ISS) telah resmi ditutup Oleh Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, M.S. selaku Rektor Universitas Brawijaya,  didamping oleh Prof. Candra Fajri Ananda, Ph.D ,Dekan FEB UB, dalam acara Clossing Ceremony Program ISS pada hari jumat (18/11).

Acara penutupan berlangsung di Ruang Sidang Utama FEB UB. Sebelum itu, agenda mahasiswa program ISS adalah student conference yakni presentasi hasil riset selama 3 minggu belajar di FEB UB, dengan topik presentasi Sistem Agribisnis di Indonesia. “Terbagi kedalam 6 kelompok dari asal anggota yang berbeda seluruh Mahasiswa program ISS berjumlah 37 mahasiswa: 20 mahasiswa berasal dari New Zeland 1, mahasiswa berasal dari Libya, 1 mahasiswa berasal dari Jepang, dan 15 mahasiswa berasal dari FEB UB, diharapkan dengan ini mereka dapat bertukar fikiran antara satu dengan yang lainnya.” jelas Devanto Shasta Pratama, SE., M.Ec., Ph.D. sebagai Ketua Pelaksana ISS.

Untuk Clossing Ceremony Program ISS dimulai setelah ishoma dan sholat jumat. Diawali dengan pemutaran after movie selama  mereka belajar di kota malang yang diikuti sedikit gelak tawa dari mahasiswa ISS. Lalu dilanjutkan  dengan penyerahan sertifikat kepada perwakilan-perwakilan mahasiswa ISS berdasarkan asal mereka, menandakan mereka pernah belajar di FEB UB. Seperti pesan yang disampaikan dekan FEB UB dalam sambutannya “Tetap kontak kami dan jika ada waktu luang bisa berkunjung lagi ke malang, karena kalian sudah menjadi bagian keluarga besar FEB UB”. Hal itu menandakan bahwa mahasiswa ISS yang mayoritas berasal dari New Zeland ini akan tetap menjadi bagian dari keluarga besar FEB UB, walaupun rangkaian masa study-nya di FEB UB telah berakhir.  Selain itu, Clossing Ceremony Program ISS juga memberikan kesempatan kepada John Mckay dari Lincoln University sebagai perwakilan mahasiswa Program ISS untuk menceritakan pengalamannya selama ada di Indonesia, khususnya di malang. Ia menyampaikan, “Some how, we have managed to navigate the immersing ourselves in the culture here, albeit with limited bahasa indonesia logged into our vocabulary. You even managed to put on an earthquake for us to give us taste of the shakes back home”. Mckay sempat terkejut dengan gempa bumi di Kota Malang beberapa hari yang lalu dalam keadaan kemampuan berbahasa Indonesia yang terbatas.

Menariknya lagi para mahasiswa Program ISS dari Lincoln University juga tampil dengan menyayi lagu Waiata dan National Anthem serta menampilkan Haka Dance yang sempat membuat audience merinding.  “Haka Dancing is traditional maori sign of respect” jelas Mckay. Selanjutnya tak kalah seru performance dari satu-satunya mahasiswa Jepang, Kenta Sasaki. Dibantu oleh 3 kawannya ia menampilkan Argorithm Manch Dance. Beberapa penampilan mahasiswa luar negeri ini  cukup menyedot perhatian audience dan standing upplause.

Penutupan berlangsung dengan meriah. Devanto menyebutkan bahwa ISS tahun ini sudah cukup berhasil karena mampu mengkombinasikan akademik dan praktik langsung seperti kunjungan ke perusaahaan serta pengenalan langsung budaya yang ada di Indonesia. Budaya disini seperti pengenalan batik, gamelan, tarian tradisional, dan belajar berbicara dengan Bahasa Indonesia. Itu juga menjadi salah satu alasan mahasiswa luar negeri harus mengikuti Program ISS FEB UB. (lst)