Debat Epistemologi: Wayang dan Weton Menerobos Ruang Epistimologi Akuntansi Multiparadigma

Dr. Mohd. Azizudin Sani (Universitas Utara Malaysia)
16 March 2012
FEB UB: Bangkitkan Kemauan dan Kemampuan Mahasiswa Menulis Karya Ilmiah
17 March 2012

Jumat (16/3), bertempat di Aula Lantai 7 Gedung F Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) telah berlangsung “Debat Epistemologi: Wayang dan Weton Menerobos Ruang Epistimologi Akuntansi” yang menghadirkan pembicara Prof. Dr. Endang Nurhayati, M.Hum (Universitas Negeri Yogyakarta). Dimoderatori oleh Prof. Dr. Bambang Subroto, SE.,MM.,Ak, Debat Epistemologi ini dihadiri oleh dosen dan mahasiswa.

Debat Epistemologi Akuntansi Multiparadigma (DEAM) diadakan rutin setiap 2 minggu sekali oleh Program Doktor Ilmu Akuntansi (PDIA) FEB UB. Dalam setiap sesinya, DEAM menghadirkan tema-tema unik dan tidak biasa dengan narasumber-narasumber yang ahli dibidangnya seperti Prof. Dr. Endang Nurhayati, M.Hum yang merupakan ahli dalam kebudayaan khususnya jawa. Saat DEAM, salah satu tim redaksi Kejawen “Jurnal Kebudayaan Jawa” ini memaparkan secara jelas filosofi dari Wayang dan Weton.

Wayang merupakan seni pertunjukan bayang-bayang tokoh mahabarata dan ramayana yang memiliki banyak jenis diantaranya Wayang Purwa, Wayang Orang, Wayang Krucil, Wayang Golek, Wayang Gedhog, dan lainnya. Secara umum wayang memiliki fungsi untuk menghibur, religius, dan edukasi. Seperti Wayang Purwa, wayang yang dianggap paling tua ini dapat “ditumpangi” dengan pesan-pesan dan kritik-kritik sosial dan politik.

Kaitannya dalam Akuntansi Multiparadigma, wayang dapat digunakan sebagai media menyampaikan visi misi suatu organisasi. Dalam pagelaran wayang, terdapat simpingan (sekumpulan wayang yang berjajar) yang berada di kanan dan kiri dengan jumlah yang seimbang serta adanya gunungan ditengah mengibaratkan keseimbangan dan perdamaian dalam hidup. Dalam akuntansi, keadaan seimbang juga ditunjukan dalam posisi neraca, dimana aktiva dan pasiva harus sama dan seimbang. Wayang juga dapat dikaitkan dengan dunia bisnis, baik cerita maupun eksistensi wayang sebagai unit bisnis yang dapat dikembangkan. “Beberapa cerita wayang menyiratkan kegiatan transaksi, musyawarah, hingga kecurangan. Selain ini dalam cerita jawa, selalu digambarkan pusat perekonomian yang terletak atau dekan dengan kerajaan”, ungkap Prof. Dr. Endang Nurhayati, M.Hum.

Tokoh dalam pewayangan juga membawa karakteristik yang berbeda-beda seperti halnya karakter/sifat manusia. Dalam budaya jawa, karakteristik juga dapat dilihat dari weton seseorang. Weton biasanya terdiri atas sapta wara (nama hari) dan panca wara (legi, pon, kliwon, pahing, dan wage). Weton sering dipakai oleh manusia untuk menentukan jodoh, pekerjaan, watak bahkan kematian. “Masyarakat yang menggunakan weton sebagai patokan untuk menentukan hal-hal tersebut merupakan masyarakat yang masih tercemar oleh budaya Hindu dan Budha. Makna dari weton diperoleh melalui penelitian yang dilakukan orang-orang terdahulu”, jelas Prof. Dr. Endang Nurhayati, M.Hum.

Weton membawa sifat tertentu, seperti seseorang yang memiliki weton Selasa Pahing cenderung memiliki watak pemalu, pemalas, dan kaku hatinya. Watak yang terbawa dalam weton tidak mutlak namun mendominasi. Orang tua yang percaya akan watak berdasarkan weton, akan berupaya untuk mencegah watak buruk yang mendominasi berdasarkan weton anaknya. Weton dapat pula diaplikasikan dalam dunia bisnis, seperti dalam perekrutan yang mempertimbangkan weton calon karyawan atau cara-cara menghadapi karyawan dan pemimpin dengan weton tertentu.

Antusias peserta DEAM pada sesi ini sangat tinggi, sehingga untuk mengakomodir rasa penasaran para peserta, PDIA akan kembali mengadakan DEAM dengan tema serupa yanag akan diadakan pada Jumat (30/3) di Aula Lantai 7 Gedung F FEB UB pukul 09.00-11.00 wib dengan tema “Keterkaitan Wayang dan Weton dengan Penelitian Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi. (ris)