Doktor Baru: Aryati Arfah

Agus Suman: Sulit Menoleh ke Timur
23 August 2011
International Student Exchange Programme at MSU Malaysia
26 August 2011

Pembangunan ketenagakerjaan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Tenaga kerja memiliki peran dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dalam mencapai tujuan pembangunan. Akan tetapi, dalam kenyataannya saat ini potensi sumber daya manusia Indonesia tersebut belum terdayagunakan secara maksimal. Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya produktivitas tenaga kerja karena rendahnya tingkat pendidikan atau pelatihan yang diperoleh pada sebagian masyarakat.

Sejalan dengan perkembangan perekonomian Indonesia, jumlah tenaga kerja semakin meningkat, termasuk tenaga kerja wanita yang semakin meningkat pula dalam keterlibatannya sebagai tenaga kerja. Tercatat pada tahun 2006, angkatan kerja wanita yang bekerja hanya sebesar 48,08 persen. Pada tahun 2007 sebesar 50,25 persen, kemudian meningkat pada tahun 2008 sebesar 51,08 persen, dan 51,77 persen pada tahun 2009. (BPS Sakernas, 2009). Walaupun jumlah tenaga kerja wanita semakin meningkat, namun beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas tenaga kerja wanita tersebut masih rendah.

Hal inilah yang dijelaskan oleh Aryati Arfah dalam ujian disertasinya yang berjudul “Analisis Produktivitas Pekerja Wanita Etnis Bugis, Makassar, dan Toraja pada Sektor Industri di Kota Makassar Sulawesi Selatan”. Ujian tersebut digelar Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya (UB) pada Senin (15/8), dengan komisi promotor yang terdiri dari Prof. Dr. Pudjihardjo, SE, MS., Dr. Khusnul Ashar, SE, MA., dan Dr. Susilo, SE, MS, serta majelis penguji yang meliputi Prof. Agus Suman, SE, DEA, Ph.D., Dr. Multifiah, SE, MS., Dr. Sasongko, SE, MS., dan Prof. Dr. H. Nasir Hamzah, SE, M.Si (penguji luar).

Penelitian ini dilakukan di kota Makassar, yang merupakan daerah sektor industri terbesar di Sulawesi Selatan yang tumbuh cukup pesat. Sehingga mempunyai peranan sangat penting dalam kehidupan masyarakat, karena dapat menyerap tenaga kerja cukup besar. Kota Makassar memiliki tiga etnis (golongan) masyarakat, yaitu etnis Bugis, etnis Makassar, dan etnis Toraja.

Dari penelitian ini diketahui bahwa karakteristik individu (kesehatan, masa kerja, etos kerja), faktor demografi (umur), sosial ekonomi (upah), serta lingkungan kerja, terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap produktivitas pekerja wanita etnis Bugis, Makassar, dan Toraja pada industri kecil. Sedangkan yang berpengaruh tidak signifikan adalah faktor demografi (jumlah tanggungan), sosial ekonomi (tingkat pendidikan), serta variabel kebijakan pemerintah. Karakteristik individu, demografi (umur), sosial ekonomi (pendidikan, upah), lingkungan kerja serta kebijakan pemerintah juga terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap produktivitas pekerja wanita Bugis, Makassar, dan Toraja pada industri menengah dan industri besar. Sedangkan faktor demografi (variabel jumlah tanggungan) berpengaruh tidak signifikan pada industri menengah dan industri besar.

Terdapat perbedaan produktivitas pekerja wanita antara etnis Bugis, Makassar, dan Toraja secara signifikan pada industri makanan dan minuman di kota Makassar. Perbedaan produktivitas tersebut dikarenakan adanya perbedaan yang melatar belakangi etos kerja setiap etnis dalam memaknai kerja, perbedaan dalam hal pendidikan, masa kerja serta kesehatan para pekerja. Selain itu, terdapat pula perbedaan produktivitas pekerja wanita antara industri kecil, industri menengah, dan industri besar pada industri makanan dan minuman di kota Makassar. Perbedaan ini dikarenakan adanya perbedaan pada tingkat pendidikan, pelatihan yang dimiliki para pekerja, yang akan berdampak pada tingkat upah, perbedaan lingkungan kerja, serta perbedaan dalam hal penerapan kebijakan pemerintah yaitu pemberian jaminan sosial bagi tenaga kerja dan perlindungan upah.

Aryati Arfah, lahir pada 13 Nopember 1962. Istri dari Andi Mattentuang, SE, MM., serta ibu dari tiga orang anak ini, pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan II pada Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI Makassar. Dosen Fakultas Ekonomi UMI Makassar ini, memperoleh gelar doktor pada Program Doktor Ilmu Ekonomi Pascasarjana FEB UB, dan berhasil meraih nilai cumlaude. [riz]