Management Entrepreneur Day 2018: Menggali Jiwa Sociopreneur Mahasiswa

Pemecahan Masalah Sosial Sekaligus Meraup Profit Melalui Management Entrepreneur Days 2018
5 May 2018
Lessons dari Jawa Timur
7 May 2018

Malang – Tahun ini, Management Entrepreneur Day diadakan pada tanggal 2 & 3 Mei 2018 dengan mengangkat tema Sociopreneur. Sociopreneur ialah gabungan kata “socio” dan “entrepreneur” yang berarti sebuah bisnis yang mengusung misi sosial. Berdasarkan pengertian tersebut maka tujuan sebuah ide bisnis ialah membangun masyarakat kelas menengah ke bawah untuk dapat memiliki usaha sendiri dan mandiri secara finansial.

“Sebuah negara dikatakan negara maju apabila jumlah entrepreneur berkisar sekitar 14% dan di Indonesia masih sebanyak 3,1%” ujar Pak Nurkholis selaku Dekan FEB UB dalam sambutannya. Oleh karena itulah Jurusan Manajemen FEB UB mengadakan kegiatan MED ini, guna menggali jiwa entrepreneur pada diri mahasiswanya. Pada tahun 2017 yang lalu, MED telah mengusung tema Technopreneur yang menggali ide bisnis berbasis teknologi. Dan pada tahun ini, dengan tema Sociopreneur ada sebanyak 56 stand yang ikut berpartisipasi.

Selain menggali jiwa entrepreneur mahasiswa, ada pula penghargaan untuk 4 kategori sebagai berikut:

a. Stand terfavorit berdasarkan jumlah stiker yang ditempelkan oleh pengunjung pada stand dan dimenangkan oleh Bedjana Tiny House (Juara 1), Help Me (Juara 2), dan Karara (Juara 3).

b. Video terbaik berdasarkan kemampuan video menjelaskan ide bisnis yang diusung dan dimenangkan oleh De Poujon (Juara 1), Glempobag (Juara 2), dan Bale Acitya (Juara 3).

c. Ide bisnis terbaik berdasarkan besarnya manfaat bisnis yang ditimbulkan untuk mengurangi masalah sosial yang ada dan dimenangkan oleh Tedako (Juara 1), Ngopilah (Juara 2), dan Sekuy Coffee (Juara 3).

d. Stand terfavorit menurut panitia yaitu Salam.

“Ide bisnis kami berawal dari Eco Wisata Kebun Kopi Amadanom di Dampit yang mengolah daun kopi menjadi kompos. Setelah itu, kami mulai mencari tahu apakah daun kopi ini bisa diolah supaya memiliki nilai lebih dan ternyata daunnya dapat diolah menjadi teh. Maka, lahirnya Tedako yaitu Teh Daun Kopi” papar Afnan, salah satu anggota tim Tedako. Dari sini dapat kita lihat bahwa ide bisnis tidak hanya muncul dari keresahan dan tren namun juga rasa tidak mudah puas dapat menghasilkan inovasi. Tidak hanya itu, tim Tedako juga mendapat sumber bahwa pada masa penjajahan, masyarakat pribumi tidak bisa menikmati biji kopi sehingga mereka mengolah daunnya menjadi teh. Sehingga mereka menamai standnya “Stand Warisan si Mbah” yang berarti warisan dari orang tua. “Kita ingin memberikan pesan bagi banyak orang agar jangan sampai melupakan apa yang telah diciptakan orang terdahulu”, tambahnya.