Mahasiswi FEB Taklukkan Hokkaido University

Organizatiopnal Development Activities 1
24 March 2019
Tim FEB UB Raih Juara 3 dalam Ajang Competition of Accounting di STIE Perbanas
27 March 2019

Mimpi tidak akan menyakiti siapa pun jika dia terus bekerja tepat di belakang mimpinya untuk mewujudkannya semaksimal mungkin. – F. W. Wollworth

Sebagian orang mungkin hanya bisa bermimpi mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional. Tetapi, seorang mahasiswi berparas cantik asal Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya ini mampu mewujudkannya.

Dialah Ananda Ramadhani Haka Putri. Mahasiswi asal Bekasi ini baru saja mengharumkan nama Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya di ajang Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting Hokkaido University, Japan. Acara ini dilaksanakan pada 16 Maret 2019. Nanda, nama sapaannya, merasa sangat beruntung karena terpilih menjadi salah satu 40 finalis yang diseleksi dari 150 peserta.

Mahasiswi Program Studi Ekonomi Islam angkatan 2016 ini mengetahui acara tersebut dari 2 tahun yang lalu. Keingintahuannya dengan acara ini diwujudkan dengan memasukkan salah satu karya tulisnya pada bulan Desember 2018 lalu. Pada bulan Januari, Nanda pun menerima kabar menggembirakan bahwa karyanya masuk dan dipanggil untuk presentasi ke Hokkaido University bersama dengan 39 peserta lainnya.

Acara tahunan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Hokkaido ini terdapat 3 rangkaian. Rangkaian pertama diisi dengan seminar yang mengundang ahli vulkanologi dari Hokkaido University, pembicara dari United Nation dan ahli mikrobiologi dari Osaka University. Rangkaian kedua merupakan puncak acara yaitu presentasi peserta. Rangkaian ketiga yang merupakan rangkaian terakhir diisi dengan motivasi dari Brand Ambassador Hokkaido University dari Indonesia sekaligus Guru Besar IPB, Professor Hanny Wijaya.

Setelah mengikuti 3 rangkaian tersebut, Nanda pun mencari pengalaman dengan berkeliling di sekitar Hokkaido. Beberapa tantangan yang Nanda alami yaitu sulitnya berkomunikasi dengan masyarakat Jepang yang mayoritas tidak bisa berbahasa Inggris. Hal ini membuat Nanda berfikir bahwa masyarakat Jepang yang masuk dalam negara maju tidak dapat menggunakan bahasa pengantar dunia itu. Tantangan lain yang harus dihadapi Nanda adalah perbedaan suhu yang ekstrem dengan Indonesia. Tetapi, menurut Nanda, dia senang karena mendapatkan banyak pengalaman di negeri orang yang bahkan ia sendiri baru pertama kali menginjakkan kaki disana.

Meskipun mendapatkan banyak hambatan dan tantangan, Nanda merasa bahwa ini merupakan hal baru yang patut diambil pelajaran. Ia juga tidak bersedih karena tidak membawa piala, karena sesungguhnya pengalaman itulah yang menjadi prestasi berharganya. Nanda juga menyarankan kepada siapapun untuk terus membaca dan belajar karena 2 hal itulah yang menjadi bekal menghadapi dunia. (NN)