Sumpah Pemuda di Era Disruption

National Seminar: Three Pillar Synergy (Directorate General of Taxes, Consultants, and Academics)
6 November 2017
Doing Business di Indonesia
6 November 2017

89 tahun yang lalu, ada histori besar melalui pergerakan pemuda untuk mewujudkan kemerdekaan di Indonesia. Kejadian tersebut hingga saat ini terus dikenang sebagai momentum Sumpah Pemuda. Ikrar Sumpah Pemuda dilakukan di pengujung acara Kongres Pemuda II tahun 1928 yang menunjukkan semangat dan komitmen para pemuda nusantara, untuk terlibat aktif dalam agenda membangun kejayaan bumi pertiwi di seluruh lini pembangunan.

Tidak sedikit kelompok pemuda yang terlibat di dalamnya, mulai dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, Pemuda Kaum Betawi, dan lain-lain. Bahkan lagu kebangsaan kita Indonesia Raya pertama kali dirilis juga di event yang sama. Peristiwa ini menjadi salah satu simpul paling bersejarah yang hegemoninya perlu terus dipelihara, agar kalangan pemuda tidak sampai kehilangan jati dirinya meskipun terus terjadi dinamika perubahan era.

Semangat para pemuda yang terlibat dalam Sumpah Pemuda untuk bersatu berjuang mencari jati diri Indonesia Satu itulah yang layak dijaga. Saat itu kondisi lingkungan sangat terbatas dan penuh ketidakpastian untuk berperang dan berjuang merebut kemerdekaan. Dengan semangat yang meledak-ledak seperti itu, akhirnya para pemuda berhasil mengambil bagian penting dalam kemerdekaan. Bahkan berkat “kelancangan” kelompok pemuda pada saat itu yang berani menculik Dwi Tunggal Soekarno dan Mohammad Hatta, proklamasi kemerdekaan pun bisa dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Lalu bagaimana dengan peran yang ideal bagi kalangan pemuda di masa kini? Tentu proses perjuangannya sudah memiliki perbedaan bentuk karena lawan yang dihadapi juga bukan lagi penjajahan secara fisik. Pemuda di masa kini tidak perlu lagi mengacungkan senjata karena perlawanannya lebih mengarah pada dimensi ide dan penguasaan teknologi.

Semenjak gencatan krisis ekonomi 1998, Indonesia bersama beberapa negara ASEAN lainnya seperti Thailand dan Filipina telah berkembang pesat hingga mencapai negara dengan pendapatan menengah (middle income countries). Jumlah penduduk dengan pendapatan kelas menengah (middle income group) pada saat ini disinyalir sekitar 40 juta jiwa. Menteri PPN/Kepala Bappenas memperkirakan pada 2045 nanti jumlahnya akan terus membengkak hingga mencapai 200 juta jiwa. Membeludaknya masyarakat kelas menengah akan disebabkan oleh perbaikan pendapatan per kapita yang diprediksi naik dari USD3.378 menjadi USD19.794. Di samping itu, peringkat Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di dunia dinilai akan naik dari peringkat 16 menjadi peringkat 8 pada 2045. Pendapatan per kapita penduduk di Indonesia memang terus mengalami peningkatan. Pada 2016 kemarin jumlah pendapatan per kapitanya sudah mencapai Rp47,96 juta per tahun atau sekitar USD3.605,06. Namun kita perlu berhati-hati dalam melangkah karena tidak banyak negara di Asia yang mampu lolos dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap). Middle-income trap sendiri dimaknai sebagai kondisi di sebuah negara dengan pendapatan per kapita menengah tetapi tak kunjung menembus menjadi pendapatan tinggi. salah satu penyebabnya karena strategi-strategi yang diterapkan oleh pemerintah tidak lagi efektif untuk mengakomodir pertumbuhan ekonomi.

Latar belakang lainnya, struktur kependudukan di Indonesia juga dikatakan akan mengalami masa-masa bonus demografi pada 2020-2030. Secara normatif masa-masa tersebut amat menguntungkan karena jumlah penduduk di usia produktif (15-64 tahun) sudah dua kali lipat dibandingkan jumlah penduduk di masa dependency. Namun beberapa lembaga internasional tampaknya masih sangsi dengan kemampuan Indonesia untuk lolos dari middle-income trap sekalipun akan mendapatkan bonus demografi. Asian Development Bank (2012) Indonesia termasuk pada negara dengan ciri-ciri yang akan masuk perangkap middle-income trap karena nisbah investasi (investment to GDP ratio) yang rendah, pertumbuhan industri manufaktur yang juga rendah, diversifikasi industri yang amat terbatas, serta kondisi pasar tenaga kerja yang kurang progresif.

Sebagian besar negara di Asia (termasuk China) dan Amerika Latin akan menemani Indonesia jika tidak ada langkah-langkah revolusioner. Banyak negara-negara berkembang yang terbuai dengan tingkat pertumbuhannya yang tinggi, namun lupa bahwa struktur perekonomiannya sangat bergantung pada tingkat konsumsi. Padahal kemampuan konsumsi masyarakat hanyalah determinasi dari perkawinan produk kebijakan lainnya misalnya daya dukung investasi, tingkat inflasi, serta produktivitas tenaga kerja. Kita perlu berhati-hati dengan kondisi yang seperti ini.

Eksistensi Pemuda dan Disruption
Beberapa pengamat ekonomi mengatakan, kalau Indonesia ingin keluar dari middle-income trap maka setidaknya angka pertumbuhan ekonominya harus konsisten di atas 10%. Target seperti ini sudah terhitung cukup gila karena untuk tumbuh di atas 5% saja tampaknya pemerintah sudah cukup ngos-ngosan. Untuk menghadapi kondisi yang seperti ini, pemerintah perlu belajar dari beberapa negara di Asia yang bisa lolos dari middle income trap berkat keberhasilannya untuk mengakomodir peran para pemudanya. Korea Selatan menjadi salah satu contoh negara yang paling atraktif ketika menghadapi masa transisi dari negara middle-income economies menjadi high-income economies.

Seperti sebagian negara Asia Timur lainnya, Korea Selatan amat concern pada tiga hal, yakni kualitas SDM, kreativitas, dan produktivitas. Perhatian terhadap ketiga aspek ini yang seringkali diabaikan di Indonesia. Keinginan untuk terlepas dari bayang-bayang middle-income trap perlu diwujudkan dengan reformasi struktural. Indonesia dengan segala kelebihannya, mulai dari bonus demografi, hingga proyeksi jumlah middle income grup yang terus meningkat, seharusnya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan mampu melompati jebatan pendapatan menengah (middle income trap). Selama ini kita terlalu nyaman dengan boom komoditas pertambangan dan produk SDA lainnya sehingga tidak mempersiapkan shifting atau peralihan saat harga komoditas sedang naik. Pasalnya, harga komoditas sendiri terus bergerak fluktuatif sehingga risikonya terhadap perekonomian Indonesia selalu besar. Akibatnya ketika kinerjanya turun, dampaknya merembet ke sektor lainnya, termasuk pada kinerja perbankan hingga kinerja keuangan pemerintah. Kebiasaan seperti ini yang kemudian perlu dikocok ulang agar dampaknya tidak semakin kebablasan. Seharusnya kita lebih rapi lagi dalam menata setiap potensi yang kita miliki.

Nah terkait bonus demografi yang segera dihadapi Indonesia, jumlah pemuda yang besar seperti yang sekarang patut ditumbuhkan sebagai harapan. Karakter pemuda yang biasanya energik dan nekat perlu diarahkan agar bernilai ekonomi yang sangat produktif. Di era disruption, dimana aktivitas ekonomi sudah menyebar dan mudah diakses oleh seluruh masyarakat, selama mereka kreatif, mereka akan mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk menunjukkan/membuktikan seperti halnya di era 1928, bahwa mereka mampu untuk memerangi globalisasi kapital yang menyerang Tanah Air. Namun era disruption juga mengarah pada efisiensi sehingga pola-pola ekonomi konvensional bisa jadi mulai tidak berlaku lagi. Misalnya untuk keluar dari middle-income trap, pemerintah perlu meningkatkan kualitas pertumbuhan. Akan tetapi konsentrasinya tidak bisa dibiarkan secara parsial misalnya hanya dari sisi pertumbuhan ekonomi saja. Kita juga perlu melihat bagaimana elastisitas pertumbuhan ekonomi katakanlah terhadap penyerapan tenaga kerja. Nah efisiensi yang dikembangkan di era disruption ini juga bisa berbahaya, karena sekarang jumlah tenaga kerjanya bisa sangat ditekan untuk menghemat biaya.

Oleh karena itu model pengembangan kalangan muda ini perlu ada penyegaran. Pemerintah perlu mendorong agar para pemuda lebih berani menghadapi iklim yang sangat kompetitif ini dengan mendayagunakan segenap potensi yang saat ini sedang kita miliki. Misalnya para pemuda ditantang untuk berani mengombinasikan antara potensi pertanian untuk dijadikan produk industri manufaktur, untuk kemudian dilanjutkan dengan pengelolaan dari sektor jasa. Jika mereka berhasil maka perlu disiapkan paket insentif agar apa yang mereka lakukan bisa ditiru pemuda-pemuda lainnya. Karena dengan semakin banyak anak muda yang aktif di dalam kegiatan perekonomian, akan sangat baik untuk bangsa ini. Kemandirian bisa ditunjukkan degan semakin banyaknya anak muda beraktifitas yang menghasilkan nilai tambah yang signifikan untuk perekonomian. Kita tidak bisa hanya menopang dagu untuk terus berharap pada industri-industri konvensional yang berskala besar. Bayangkan saja jika satu per satu para pemuda ini mampu menarik setidaknya 10 tenaga kerja baru. Maka gerakan-gerakan kecil ini jika dipadukan akan melahirkan gelombang pembangunan yang sangat besar, persis dengan kejadian Sumpah Pemuda silam.

Lingkungan pendidikan juga perlu mengarahkan agar siswa/mahasiswanya menemukan mindset yang kreatif. Para lulusan perguruan tinggi juga perlu didukung agar lebih berani muncul sebagai inovator. Mereka jangan terlalu berharap untuk terus hidup sebagai karyawan karena jumlahnya semakin terbatas. Kalau keterbatasan ini tidak ada yang mendobrak, maka bonus demografi ini malah menimbulkan gejala yang buruk terhadap kestabilan sosial. Di sinilah peran pemerintah perlu dihidupkan sebagai fasilitator. Pemerintah perlu membuat kemudahan bagi anak-anak muda ini untuk berekonomi dan memfasilitasi secara positif agar para pemuda berani untuk memulai usaha. Penting juga untuk memberi fasilitas dan perlindungan atas karya mereka serta membantu untuk berkembang. Upaya sistemik seperti itu akan menjadi salah satu kunci keberhasilan perekonomian Indonesia di masa mendatang.

Pemerintah juga jangan terlalu “merestriksi” tetapi lebih memfasilitasi dan memberikan perlindungan (lihat taksi dan ojek online yang terestriksi). Artinya proses komunikasi yang dibangun pemerintah jangan terlalu menyiksa anak-anak muda yang punya ide kreatif. Ada baiknya pula jika yang selama ini masih bergerak secara konvensional (dalam studi kasus transportasi online) juga diajak untuk mulai memodernisasi usahanya. Karena sudah semakin terbukti, berbagai rentetan inovasi telah menumbuhkan efisiensi dalam ekonomi. Dan efisiensi ini juga mendorong mereka untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi. Dengan jalan seperti inilah, target agar Indonesia bisa terlepas dari middle-income trap bisa semakin lapang jalannya. Pemuda, tetaplah semangat dan berkarya untuk Indonesia!

Candra Fajri Ananda
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya

Leave a Reply