IMF, Lagarde, dan Krisis Yunani

Doktor Baru : Suwitho
5 July 2011
Pendaftaran PPAk dan Join Program
8 July 2011

Dewan Eksekutif IMF telah memilih Christine Madeleine Odette Lagarde (menteri keuangan Prancis) untuk memimpin lembaga moneter internasional tersebut, menggantikan Dominique Strauss-Kahn. Meski sebelum menjabat direktur pelaksana (managing director) IMF keduanya pernah menjabat menteri keuangan Prancis, latar belakang mereka sangat berbeda.

Lagarde menghabiskan sebagian besar karirnya sebagai pengacara di firma tersohor (Baker & McKenzie) di AS. Sementara itu strauss-Kahnmerupakan ekonom kiri kelas satu di Eropa yang gagasan-gagasan structuralnya sangat berpengaruh, khususnya di Prancis. Dengan latar yang berbeda tersebut, tentu visi yang akan di pakai memimpin pasti berlainan. Lagarde menjadi nahkoda baru IMF setelah sukses menekuk Agustin Carstens, kandidat kuat dari Meksiko, yang sebelumnya justru memiliki pengalaman berkarir di IMF.

Sumbangan Strauss-Kahn

Sejak Strauss-Kahn memimpin IMF akhir 2007, sebetulnya banyak perubahan pemikiran yang berkembang di IMF untuk mereformasi cara pandang lembaga tersebut terhadap persoalan ekonomi global. Selama ini, IMF dikenal sebagai lembaga multilateral berpegaruh (bersama Bank Dunia) yang menjadi sponsor liberalisasi ekonomi oleh karena itu, setiap terjadi krisis ekonomi , resep yang ditawarkan IMF kepada Negara pasien tidak jauh dari program pengetatan anggaran, liberalisasi sector keuangan, dan privatisasi. Persyaratan-persyartan tersebut harus dijalankan secara ketat oleh Negara bersangkutan jika kucuran dana ingin cepat didapat.

Indonesia juga mengalami itu pada krisis hebat 1997/ 1998. Sekian banyak klausul letter of intent (LoI) harus ditandatagani pemerintah demi mendapatkan dana bantuan dari IMF. Implikasinya, perekonomian Indonesia sangat terbuka dan bebas, persis seperti yag dikehendaki IMF dan Bank Dunia.

Di bawah kepemimpinan Strauss-Kahn, sedikit demi sedikit stereotip kebijakan ekonomi itu diganti dengan ide yang lebih “strukturalis”. Salah satu contoh yang amat nyata adalahdukungan IMF kepada Negara-negara berkembang untuk memberlakukan kebijakan kontrol modal (capital control) agar Negara tersebut tidak terombang-ambing dalam pusaran krisis ekonomi  (yang bersumber dari eksternal). Saat saya melakukan pertemuan dengn penjabat IMF di markas mereka (Washington DC) pada awal Desember 2010, mereka menyarankan pemerintah Indonesia untuk mengontrol aliran modal asing untuk menhindari jebakan krisis ekonomi yang bersumber dari problem nilai tukar. Sulit dibayangkan ide seperti itu muncul dari IMF sbelum kepemimpinan Strauss-Kahn karena IMF justru menjadi sponsor gagasan aliran modal. Sayangnya, hingga kini pemerintah masih mengamalkan ramuan kuno IMF tersebut.

Tentu saja, mengandalkan semata kepada daya dobrak pemikiran Strauss-Kahn tidak cukup untuk mengunah IMF karena aransemen kelembagaan internal yag tidak adil. Saat ini, AS masih menguasai hak suara sekitar 16 persen dan Uni Eropa memiliki 32 persen, padahal anggota IMF 187 negara. Tanpa ada perubahan terhadap komposisi hak suara tersebut, reformasi ditubuh IMF pasti berjalan sangat lambat. Oleh karena itu, ujian Lagarde saat ini adalah kemampuan meneruskan reformasi reformasi pemikiran yang telah diinisiasikan oleh Strauss-Kahn tersebut.

Ujian tersebut harus langsung di praktikkan ketika Yunani saat ini menghadapi kemelut ekonomi yang rumit. Yunani sudah lebih setahun ini berada dalam pusaran krisis yang celakanya hingga kini belum menerbitkan asa bagi perbaikan ekonomi. IMF oleh sebagian kalangan dituduh sebagai salah satu biangnya karena isinya dianggap copy-paste dari formula yang mereka terapkan selama ini.

IMF dan Uni Eropa

Modal besar yang dimiliki oleh Lagarde adalah ketegasan tanpa kehilangan kemampuan menjadi pembangun consensus yang baik (pernah juga dinobatkan sebagai menteri keuangan terbaikdi Uni Eropa).  Modal itu penting untuk memimpin IMF karena dia terus berhadapan bukan hanya dengan pemimpin (ekonomi) di suatu Negara, tetapi juga dengan blok ekonomi tertentu.

Dalam kasus krisis Yunani, Lagarde harus melakukan banyak negosiasi dengan Uni Eropa karena kelompok tersebut berada di garis depan penyelamatan Yunani. Di sinilah reputasi Lagarde sebagai pembangun consensus yang baik dipertaruhkan.

Untungnya dia adalah warga Eropa dan menteri keuangan Prancis sehingga tdaklah sulit menemukan titik pijak yang sama antara IMF dan Uni Eropa dalam menangani Yunani. Jika sukses menangani itu, rasanya Lagarde akan memiliki kuda kuda yang kukuh dalam menggerakkan IMF dimasa yang akan datang.

Di luar itu semua, kecemasan saya yang utama terhadapa figure Lagarde adalah soal format gagasan yang hendak dia perjuangkan. Berbeda dengan Strauss-Kahn yang malang melintang dalam dunia intelektual. Sehingga pemikirannya sudah sangat dikenal, Lagarde minim dengan jejak rekam tersebut. Dalam soal ini saya tidak terlalu punya optimism yang berlebihan terhadapnya, khususnya dlam mereformasi sikap IMF terhadap isu-isu liberalisasi, kontrol keuangan dan perubahan rezim keuangan internasional.

Pada aras itu, sangat mungkin IMF kembali mengulang formula kebijakan ekonomi klasik yang diusung sejak puluhan tahun lalu, jika di buat matriks, Lagarde mempunyai prospek yang bagus untuk melakukan konsolidasi internal organisasi dan diplomasi dengan Negara-negara anggota IMF. Namun, kekurangannya adalah meredupnya cahaya perubahan pemikiran yang sudah dimulai Strauss-Kahn. Dengan demikian, jangn terlalu lama mengharap lembaga itu memiliki manfaat bagi masa depan ekonomi yang lebih adil dan sejahtera. Sedih, memang!

Oleh: Ahmad Erani Yustika, guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya; Direktur Indef
Dimuat dalam Jawa Pos edisi Selasa 5 Juli 2011.