Memupuk Sinergisitas Akademisi dan Pemerintah Melalui Taxation Update Series

Kemeriahan “Sparkling Ecora dan Showcase 2016″
14 November 2016
Kerja Keras Mendorong Pertumbuhan
14 November 2016

tax-amnesty-atau-amnesti-pajakSebagai bentuk sinergisitas dan wujud kepedulian terhadap perekonomian Indonesia khususnya dalam pelaksanaan tax amnesty, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) bekerjasama dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyelenggarakan Seminar Nasional Taxation Uptdate Series dengan tema “Reformasi Tata Kelola Pajak di Indonesia Pasca Tax Amnesty”. Tidak tanggung-tanggung acara tersebut turut mengundang Direktorat Jendral Pajak Republik Indonesia (Dirjen Pajak RI), Drs. Ken Dwijugiasteadi, M.Sc.,Ak. yang juga merupakan alumni pertama Jurusan Akuntansi FEBUB untuk memberikan keynote speech dalam acara tersebut.

Acara yang diselenggarakan di Auditorium UB TV tersebut merupakan salah satu rangkaian acara dari Dies Natalis ke-55 FEB UB. Acara Taxation Update Series tersebut mampu menggait peserta hingga 280 orang yang berasal dari kalangan akademisi, akuntan profesional, praktisi, IAI, lembaga pemerintahan, dan mahasiswa.

Dekan FEB UB, Prof. Dr. Candra Fajri Ananda, SE., MSc., Ph.D. juga turut memberikan sambutan dalam acara tersebut. Melalui acara tersebut, diharapkan reformasi yang digagas tidak hanya berfokus dalam sistem perpajakan melainkan perekonomian Indonesia, yakni melalui pertumbuhan industri di Indonesia khususnya UMKM. Sebagai bentuk upaya meningkatkan kegiatan industri di Indonesia, FEB UB terus mendorong peningkatan jiwa kewirausahaan mahasiswa baik melalui mata kuliah Kewirausahaan dan Inovasi maupun program kerja yang memberikan ladang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ide bisnisnya.

Dalam sambutannya, Drs. Ken Dwijugiasteadi, M.Sc.,Ak., memberikan gambaran bahwa Wajib Pajak (WP) yang melakukan amnesti hanya berkisar 4% dari total WP yang ada di Indonesia. Angka tersebut dinilai masih terlalu rendah, walaupun pada kenyataannya uang tebusan tersebut telah memecahkan rekor dunia sebagai perolehan tax amnesty tertinggi di dunia. Deklarasi harta yang paling banyak diungkap berupa kas dan setara kas. Sedangkan dalam program repatriasi, kebanyakan harta WP bersumber dari negara Singapura, Cayman Island, Hongkong, China, dan Virgin Island. Dirjen Pajak RI terus berupaya untuk mendorong WP agar mengikuti program Tax Amnesty, sebab banyak fasilitas yang dapat diperoleh, antara lain: penghapusan pajak terutang, sanksi administrasi pajak, dibebaskan dari proses pemeriksanaan, adanya jaminan kerahasiaan data, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, Dirjen Pajak RI menghimbau agar masyarakat melakukan program amnesti pajak ini sebelum batas waktu yang ditentukan, yakni 31 Maret 2017.

Melalui acara tersebut juga diharapkan mampu melahirkan pemikiran-pemikiran orisinil dalam menyongsong perekonomian global, sebagaimana Indonesia telah meleburkan diri dalam Asean Economic Community yang akan semakin memacu denyut perekonomian nasional. Hal tersebut tentu saja bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah melainkan semua elemen masyarakat termasuk akademisi. (gde)