2025 – Kajian bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya mengungkap bahwa produktivitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia masih tertinggal dibanding sejumlah negara ASEAN, khususnya Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Produktivitas ini diukur melalui Human Capital Index (HCI) dan output per jam kerja, yang menunjukkan posisi Indonesia berada pada kelompok menengah ke bawah di kawasan, sekaligus menegaskan belum optimalnya kualitas modal manusia nasional.
Peneliti menemukan bahwa Indonesia menghadapi kesenjangan kualitas–kuantitas dalam pembangunan pendidikan dan kesehatan. Lama sekolah penduduk relatif meningkat, namun capaian skor tes terstandar masih rendah, sementara indikator kesehatan seperti stunting dan angka kelangsungan hidup anak tetap menjadi penghambat produktivitas jangka panjang. Kondisi tersebut membuat peningkatan akses pendidikan dan layanan kesehatan belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kenaikan kapasitas produktif tenaga kerja.
Dari sisi struktural, hasil kajian menunjukkan bahwa PDB per kapita, kualitas tata kelola pemerintahan, serta belanja pemerintah di sektor pendidikan dan kesehatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap HCI dan produktivitas tenaga kerja di negara-negara ASEAN. Negara dengan tata kelola lebih efektif, regulasi lebih baik, dan investasi SDM yang lebih besar tercatat memiliki produktivitas SDM yang lebih tinggi dan kesenjangan produktivitas yang lebih sempit. Di tingkat provinsi dan individu di Indonesia, pendidikan, kesehatan, pelatihan, pengalaman kerja, serta penggunaan internet terbukti meningkatkan pendapatan per jam kerja, sementara kemiskinan dan ketimpangan akses layanan dasar menciptakan perangkap kemiskinan–produktivitas yang sulit diputus.
Kajian ini juga menyoroti sejumlah tantangan lintas sektor, mulai dari ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri (skills mismatch), minimnya pelatihan vokasi berbasis permintaan pasar, lemahnya ekosistem inovasi dan penelitian-pengembangan, hingga keterbatasan perlindungan dan peningkatan kompetensi bagi pekerja informal. Di sektor pertanian dan industri berteknologi rendah, produktivitas tertahan oleh lambatnya adopsi teknologi serta kendala akses pembiayaan dan pelatihan, sehingga transformasi struktural berjalan lebih lambat daripada yang dibutuhkan.
Melalui pendekatan sistem dinamik, para peneliti memetakan hubungan sebab-akibat antara investasi pendidikan, kesehatan, pelatihan, kualitas tata kelola, dan struktur pasar tenaga kerja untuk mengidentifikasi titik ungkit kebijakan yang paling efektif. Dari proses tersebut dirumuskan paket strategi yang mencakup penguatan investasi terarah pada pendidikan dan kesehatan, reformasi pendidikan vokasi berbasis kebutuhan industri, perluasan program pelatihan dan reskilling digital, penguatan perlindungan dan formalisasi tenaga kerja, serta peningkatan koordinasi tata kelola lintas sektor. Strategi ini diharapkan mampu mendorong kenaikan produktivitas SDM dan tenaga kerja secara berkelanjutan, mengurangi kesenjangan antarwilayah dan antarsektor, serta memperkuat fondasi Indonesia dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045.