Malang — Peneliti Universitas Brawijaya, Silvi Asna, mengungkapkan bahwa potensi pengembangan asuransi di Indonesia masih sangat besar, khususnya jika dilihat dari perbedaan karakter dan kebutuhan lintas generasi. Hal tersebut disampaikan berdasarkan hasil kajian bersama Indonesia Financial Group (IFG) dan Universitas Brawijaya yang dirampungkan sepanjang 2025.
Menurut Silvi, hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan asuransi di Indonesia masih didominasi oleh asuransi kesehatan, sementara jenis asuransi lain—seperti asuransi jiwa, pendidikan, pensiun, dan properti—belum berkembang sebanding dengan potensi pasar yang ada. “Padahal, dari sisi demografi dan dinamika sosial-ekonomi digital, ruang pertumbuhannya masih sangat luas,” ujarnya.
Kajian ini menggunakan data rumah tangga berskala nasional yang dianalisis melalui pendekatan kuantitatif dan pemodelan machine learning. Dari proses tersebut, tim peneliti berhasil memetakan rumah tangga ke dalam kategori probabilitas tinggi, menengah, dan rendah dalam mengadopsi produk asuransi. Pemetaan ini sekaligus mengungkap adanya segmen masyarakat non-urban berpendapatan menengah ke bawah yang hingga kini masih relatif underserved oleh layanan asuransi.
Silvi menjelaskan, perbedaan perilaku antar generasi menjadi temuan penting dalam kajian ini. Generasi X cenderung menaruh perhatian besar pada kejelasan manfaat dan kemudahan proses klaim. Sementara itu, generasi Y dan Z lebih tertarik pada produk asuransi yang sederhana, fleksibel, dan berbasis digital, terutama yang terintegrasi dengan e-wallet dan ekosistem keuangan digital sehari-hari.
“Perbedaan preferensi ini menunjukkan bahwa pendekatan satu produk untuk semua generasi sudah tidak relevan lagi,” kata Silvi. Karena itu, tim peneliti menyusun sejumlah rekomendasi strategis bagi Indonesia Financial Group dan para pemangku kebijakan. Rekomendasi tersebut mencakup desain produk asuransi yang spesifik per generasi, penguatan literasi asuransi berbasis digital dan komunitas, serta pemanfaatan analitik data untuk mempertajam penentuan target pasar.
Hasil kajian ini, lanjut Silvi, tidak berhenti pada laporan internal semata. Temuan dan rekomendasi akan dituangkan dalam bentuk policy brief dan publikasi ilmiah, sebagai kontribusi akademik dalam mendorong penguatan inklusi asuransi nasional. “Harapannya, riset ini dapat menjadi jembatan antara kebijakan, industri, dan kebutuhan riil masyarakat di era ekonomi digital,” pungkasnya.