Pertumbuhan Berkualitas?

Polemik Stunting dan Pembangunan
4 February 2020
Pendaftaran Tutor Manajemen Semester Genap 2019/2020
17 February 2020

Prof. Candra Fajri AnandaDekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
Pertumbuhan ekonomi merupakan satu di antara hal yang menjadi perhatian besar di setiap negara di dunia. Sebab, pertumbuhan ekonomi merupakan satu di antara indikator keberhasilan pembangunan dalam suatu perekonomian.

Pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi perkembangan perekonomian dari suatu periode ke periode berikutnya. Pertumbuhan ekonomi merupakan upaya peningkatan kapasitas produksi untuk mencapai penambahan output, yang diukur menggunakan produk domestik bruto (PDB) maupun produk domestik regional bruto(PDRB) dalam suatu wilayah.

Pertumbuhan ekonomi pada dasarnya menjelaskan tentang kemajuan ekonomi, perkembangan ekonomi, kesejahteraan ekonomi, serta perubahan fundamental suatu negara dalam jangka relatif panjang. Simon Kuznets (1971) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan semakin banyak jenis barang-barang ekonomi kepada penduduknya.

Kemampuan suatu negara untuk menghasilkan barang dan jasa akan meningkat tak lepas dari pertambahan jumlah dan kualitas faktor-faktor produksi di antaranya berupa sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA), peningkatan modal yang digunakan, hingga kemajuan teknologi.

Pertumbuhan ekonomi, selain sebagai tolok ukur keberhasilan atau kemunduran perekonomian suatu negara, juga merupakan indikator kesejahteraan masyarakat. Ketika pertumbuhan ekonomi mengalami kenaikan, maka di dalamnya terdapat kegiatan ekonomi yang berkembang.

Kegiatan ekonomi yang berkembang ini menandakan bahwa lapangan pekerjaan semakin banyak dan pendapatan masyarakat semakin meningkat.

Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

Beberapa faktor produksi yang secara teori dianggap berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi pada realitanya tidak selalu dimiliki seluruhnya secara sempurna oleh setiap negara. Tidak semua negara di dunia memiliki sumber alam yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan manusia.

Negara maju seperti Amerika dan Jepang sejatinya keduanya mengalami kelangkaan sumber alam berupa bahan mentah. Namun, keduanya mampu mengatasi kelangkaan tersebut melalui perdagangan. Sedangkan Indonesia dengan kekayaan alam yang melimpah dan jumlah penduduk 267 juta jiwa yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk kepentingan pembangunan, namun rendahnya produktivitas masih menjadi kendala.

Permasalahan ketenagakerjaan di negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia, Brasil, Kolombia, India, dan negara berkembang lain adalah memiliki jumlah SDM yang besar, namun belum berbanding lurus dengan kualitas SDM yang dimiliki. Sehingga, untuk dapat memproduksi barang/jasa secara optimal, maka setiap negara memerlukan pertukaran/perdagangan antarwilayah.

Melihat perdagangan menjadi kebutuhan dalam kegiatan ekonomi antarwilayah, maka tak heran jika ada beberapa wilayah yang mendorong pertumbuhan ekonominya melalui perdagangan.

Setiap negara membangun negaranya dengan cara dan strategi yang berbeda sesuai dengan sumber daya yang dimiliki. Ada beberapa negara yang mendorong pertumbuhan ekonomi dari kepemilikan sumber daya alam atau sebaliknya dari peran sektor industrinya.

Sayangnya, kajian empiris menunjukkan bahwa negara yang bertumpu pada ekonomi berbasis sumber daya alam ternyata tidak mampu bertahan lama sebagai “penguasa” ekonomi dunia. Sedangkan negara yang mampu menjadi inventor maupun sangat inovatif dalam teknologi, mereka kinilah yang menjadi leader ekonomi dunia saat ini.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih jauh dari harapan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2019 sebesar 5,02%, meleset dari target pemerintah sebesar 5,2%. Selain itu, pertumbuhan tersebut juga melambat dibandingkan periode 2018 sebesar 5,17% dan 2017 sebesar 5,07%. Pada 2019 pertumbuhan ekonomi kuartal keempat bahkan cukup rendah, hanya 4,97%.

BPS mencatat bahwa penyebab rendahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia ialah sejumlah sektor ekonomi yang melambat serta pelambatan konsumsi rumah tangga dan pelemahan daya beli masyarakat, di mana konsumsi rumah tangga turun 4,97% di kuartal IV/2019.

Ekonomi Indonesia bagai bangunan yang memiliki fondasi rentan runtuh. Masalah struktural itu adalah masih rendahnya investasi, ekspor yang didominasi produk primer, minimnya industri manufaktur, rendahnya produktivitas pekerja, besarnya pekerja sektor informal, minimnya jumlah wirausaha, serta terbatasnya instrumen sektor keuangan dan pasar modal. Dengan begitu, sedikit saja ada tekanan eksternal, berbagai indikator ekonomi langsung melemah.

Pada dekade 1960-an, Indonesia berada di garis yang sama dengan Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura. Kini tiga negara tersebut telah masuk kategori negara maju. Sedang Indonesia masih tersandung sebagai negara berpendapatan menengah-bawah dan terancam middle income trap. Tanpa ada kebijakan yang jitu di bidang ekonomi dan transformasi, Indonesia akan terperangkap di kelasnya sebagai negara berpendapatan menengah bawah dengan PDB per kapita di bawah USD4.000.

Kini Indonesia tengah menikmati bonus demografi, yakni jumlah usia produktif yang mencapai 64-70% dari total penduduk. Mereka adalah warga Indonesia berusia 15-64 tahun.

Sejumlah studi memperkirakan bonus demografi terjadi pada 2020-2035. Jika semua manusia usia produktif bekerja produktif dan meraih penghasilan yang baik, bangsa ini akan menikmati kemajuan luar biasa. Bonus demografi perlu dimanfaatkan dengan baik untuk memacu laju pertumbuhan ekonomi sebagaimana pengalaman negara maju.

Pada 1981-1995, saat menikmati bonus demografi, Korsel memacu pertumbuhan ekonomi hingga di atas 8,5%. Jepang dan kini China mencatat laju pertumbuhan double digit saat menikmati bonus demografi.

Menuju Indonesia 2045

Pada 2045, di mana NKRI merayakan HUT Kemerdekaan Ke-100, seharusnya Indonesia bisa masuk negara maju. Dalam desain pemerintah, diharapkan pada 2045, pendapatan per kapita Indonesia sudah mencapai USD23.000. Namun, untuk menuju “Indonesia Emas 2045” tersebut, bukanlah hal yang mudah. Pemerintah perlu melakukan perubahan ekonomi Indonesia tidak bisa parsial, melainkan harus secara struktural.

Pemimpin bangsa Indonesia pada 2045 adalah mereka yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah, baik pendidikan usia dini, pendidikan dasar, atau pendidikan menengah. Pendidikan adalah kendaraan mencapai keterwujudan manusia unggulan sebagai generasi emas berdasarkan motivasi intrinsik, menuju pada kinerja yang akuntabel, berkualitas, dan otonom sebagai manusia yang bermartabat, bukan semata sebagai manusia yang harus mengisi keseimbangan antara supply dan demand.

Rendahnya kualitas pekerja Indonesia menjadi isu krusial industri saat ini. Produktivitas pekerja Indonesia masih jauh di bawah produktivitas China. Hal ini jugalah yang menjadi satu di antara penyebab produk Indonesia mahal dan kurang berdaya saing.

Di bidang pendidikan, setidaknya pemerintah perlu segera mencanangkan Program Wajib Belajar 12 Tahun dengan harapan dapat meningkatkan daya tampung SMA/MA/SMK dan merata di seluruh wilayah NKRI sedemikian sehingga angka partisipasi sekolah (APS) untuk penduduk usia 16-18 tahun mencapai angka di atas 90%. Pemerataan pendidikan di Indonesia sangat diperlukan untuk dapat meningkatkan produktivitas masyarakat hingga di berbagai pelosok daerah di Indonesia.

Selain kenaikan produktivitas, kunci penentu daya saing Indonesia juga ditentukan oleh kemampuan penguasaan teknologi. Ekonomi dunia begitu dinamis mengikuti cepatnya perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Selama ini SDM Indonesia banyak terhalang oleh berbagai kendala satu di antaranya berkenaan dengan perubahan cepat teknologi akibat perkembangan iptek yang merupakan tuntutan pasar dan mempersyaratkan keterampilan baru dalam memasuki dunia kerja.

Selain itu, kesiapan lain yang perlu dilakukan pemerintah untuk mencapai golden moment 2045 ialah pemerataan pembangunan infrastruktur. Meskipun dalam kurun lima tahun terakhir Indonesia telah membangun infrastruktur secara besar-besaran, namun infrastruktur yang diperlukan oleh Indonesia tak cukup hanya di bidang infrastruktur transportasi dan jalan raya, melainkan juga pemerataan pembangkit listrik, jaringan distribusi dan transmisi, serta telekomunikasi, hingga infrastruktur pertanian dan infrastruktur dasar. Banyak wilayah di Indonesia masih kekurangan air bersih dan hidup dengan sanitasi yang buruk.

Selanjutnya, reformasi struktural juga mencakup peningkatan efisiensi perlu dilakukan pemerintah untuk meningkatkan minat investor terhadap Indonesia. Kualitas kelembagaan yang profesional dan bebas korupsi diharapkan dapat menarik investor untuk berinvestasi di Indonesia.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dan dukungan rakyat atas kebijakan pemerintah, tentu seharusnya kita optimistis menyongsong Indonesia Emas 2045. Semoga.

Prof. Candra Fajri Ananda

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Di upload oleh : agus widyatama
Di upload oleh : agus widyatama
Pengelola Sistem Informasi, Infrastruktur TI dan Kehumasan

Leave a Reply