Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya Kelompok 28 melaksanakan program kerja “Peneliti Cilik SDGs: Pembelajaran Interaktif Berbasis Riset Mini” di Desa Ngebruk, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Program ini ditujukan kepada siswa kelas VI sekolah dasar sebagai upaya mengenalkan konsep Sustainable Development Goals (SDGs) sekaligus menumbuhkan kemampuan berpikir kritis melalui pembelajaran yang interaktif dan kontekstual.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai SDGs, sejarah terbentuknya, serta implementasinya dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan rumah maupun sekolah. Selain itu, siswa juga diajak memahami bahwa berbagai permasalahan di sekitar mereka memiliki keterkaitan dengan pembangunan berkelanjutan sehingga dapat mulai berkontribusi melalui tindakan sederhana.
Ketua pelaksana program, Dorothea Bening Larasati, mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya yang dibimbing oleh Bapak Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int., menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang agar siswa tidak hanya menerima materi secara satu arah, tetapi juga terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

“Melalui Program Peneliti Cilik SDGs, kami ingin memperkenalkan bahwa pembangunan berkelanjutan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan setiap hari oleh siswa. Dengan pendekatan riset mini, siswa diajak berpikir kritis untuk mengidentifikasi permasalahan di lingkungan sekitar sekaligus merumuskan solusi sederhana yang dapat mereka lakukan,” ujar Dorothea.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai Sustainable Development Goals (SDGs) menggunakan media presentasi interaktif yang dikemas dengan bahasa sederhana, ilustrasi, dan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Materi yang diberikan meliputi pengenalan SDGs, sejarah terbentuknya SDGs, serta berbagai contoh implementasi di lingkungan rumah dan sekolah, seperti menjaga kebersihan, menghemat penggunaan air dan listrik, mengurangi sampah plastik, serta menghargai sesama.

Salah satu materi yang menarik perhatian siswa adalah pembahasan mengenai trade-off dalam pembangunan berkelanjutan. Melalui contoh penggunaan botol plastik, siswa diajak memahami bahwa setiap solusi sering kali memiliki manfaat sekaligus konsekuensi yang perlu dipertimbangkan. Pendekatan ini membantu siswa mengenal konsep pengambilan keputusan secara lebih kritis sejak usia dini.


Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan mini research discussion. Pada sesi ini siswa berperan sebagai “Peneliti Cilik SDGs” dengan mengidentifikasi berbagai permasalahan yang mereka temui di lingkungan sekitar, mulai dari kebiasaan membuang sampah sembarangan hingga banyaknya sampah plastik dari kemasan makanan dan minuman. Siswa kemudian mendiskusikan penyebab masalah, pihak yang terdampak, tujuan SDGs yang berkaitan, serta solusi yang dapat diterapkan sesuai dengan kapasitas mereka sebagai pelajar.

Sebagai bagian dari latihan berpikir kritis, siswa juga diajak menganalisis kasus pencemaran laut akibat sampah plastik. Mereka mampu menghubungkan permasalahan tersebut dengan SDG 14 (Life Below Water) dan mengusulkan solusi berupa tidak membuang sampah ke laut. Selain itu, siswa mulai memahami bahwa menjaga kebersihan lingkungan juga memerlukan dukungan biaya, teknologi, dan kerja sama berbagai pihak sehingga setiap solusi memiliki konsekuensi atau trade-off.

Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka aktif menjawab pertanyaan, menyampaikan pendapat, serta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai SDGs dan isu lingkungan di sekitar mereka. Diskusi berlangsung interaktif sehingga suasana belajar menjadi lebih hidup dan mendorong keberanian siswa untuk berpikir serta mengemukakan ide.

Menurut Dorothea, pendekatan pembelajaran berbasis riset mini memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna karena siswa tidak hanya memahami konsep pembangunan berkelanjutan secara teori, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan kondisi nyata yang mereka temui setiap hari.

“Harapannya, siswa tidak hanya mengenal SDGs sebagai materi pembelajaran, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan terbiasa berpikir kritis ketika menghadapi berbagai permasalahan di sekitarnya. Kebiasaan ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi mereka sebagai generasi penerus pembangunan berkelanjutan,” tambahnya.

Program Peneliti Cilik SDGs menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian Mahasiswa Membangun Desa Universitas Brawijaya dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Desa Ngebruk. Melalui pembelajaran interaktif yang dipadukan dengan riset mini, mahasiswa berharap kegiatan ini mampu meningkatkan literasi mengenai pembangunan berkelanjutan sekaligus menumbuhkan karakter siswa yang peduli terhadap lingkungan, mampu berpikir kritis, serta siap berkontribusi dalam mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan.

Recent Posts

Categories

Scroll to Top
Skip to content