
Tumpukan sampah yang tak terkendali kini bukan sekadar masalah tata kota, melainkan ancaman serius bagi ketahanan energi dan pemicu utama krisis perubahan iklim global. Merespons kondisi kritis tersebut, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) menggelar workshop pengelolaan sampah anorganik bersama Yayasan Insan Lestari Indonesia (iLitterless Indonesia) pada 15 Juli 2025.
Kegiatan workshop yang dilaksanakan di Ruang Sidang Utama, Lantai 2, Gedung Dekanat Lama FEB UB ini dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Kepala Bagian Tata Usaha, Fajar Andy Kurniawan, SE., MM serta Kasubbag Umum dan Aset, Anjik Fahrur Huda, S.ST. Kegiatan ini juga menyasar garda terdepan kebersihan kampus, dengan melibatkan tenaga kependidikan (tendik) TU, petugas taman, cleaning service, dan perwakilan mahasiswa.
Dalam paparannya, narasumber dari iLitterless, Mayedha Andifisrta, S.Sos., M.Sos, membuka wawasan peserta mengenai realita darurat sampah. Saat ini, total timbunan sampah di Kota Malang menembus angka 730 ton per hari, sebuah volume raksasa yang setara dengan 730 unit mobil Avanza. Kondisi ini membuat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Malang, khususnya TPA Supit Urang, mengalami overload atau kelebihan kapasitas operasional.
Lebih lanjut, Mayedha membedah bahaya laten di balik tumpukan sampah tersebut. Sampah anorganik dan organik yang tercampur secara masif di TPA menghasilkan emisi gas metana, salah satu jenis Gas Rumah Kaca (GRK) yang sangat merusak lapisan ozon. Tidak hanya memperparah pemanasan global, tumpukan gas metana di area TPA yang overload merupakan bahan bakar yang sangat mudah terbakar dan kerap menjadi pemicu utama bencana kebakaran TPA pada musim kemarau.
“Pemanasan global memicu kenaikan suhu ekstrem yang secara langsung mengganggu stabilitas ekosistem perkotaan dan pertanian kita,” jelas pemaparan tersebut, menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi isu masa depan, melainkan realitas hari ini.

Mengelola sampah secara sistemik terbukti berdampak langsung pada penghematan energi dan penurunan emisi karbon. iLitterless, yang telah memelopori pengelolaan sampah berbasis sirkular ekonomi sejak 2021, memaparkan bahwa pendekatan komunal jauh lebih efektif dibandingkan sekadar mengandalkan kesadaran individu yang sering terkendala friksi psikologis dan fisik.
Dengan sistem pengelolaan hulu yang terorganisir di kampus, sampah anorganik tidak berakhir di TPA Supit Urang, melainkan langsung disalurkan ke pabrik daur ulang. Proses daur ulang ini membutuhkan konsumsi energi yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan mengekstraksi dan memproduksi barang dari bahan mentah baru.
Integrasi isu perubahan iklim dan ketahanan energi ini selaras dengan 5 Pilar Utama UB Green Campus yang diusung universitas, yaitu Waste (Sampah), Water (Air), Energy (Energi), Infrastructure (Infrastruktur), dan Transportation (Transportasi). FEB UB berkomitmen untuk berperan aktif dalam mencapai target reduksi sampah nasional sebesar 30%.
Untuk mewujudkan kampus yang berkelanjutan, seluruh sivitas akademika FEB UB kini didorong untuk menjalankan tiga langkah partisipasi aktif:
- Pilah Sampah: Memisahkan sampah anorganik (botol, kaleng, kertas) dari sampah sisa makanan agar kualitas bahan daur ulang tetap terjaga.
- Bersihkan: Memastikan kemasan kosong, membilas sedikit jika terdapat sisa cairan manis, lalu mengeringkannya.
- Setor ke Drop Box: Membawa dan menyetorkan sampah yang telah terpilah ke fasilitas Drop Box terdekat di area kampus.
Langkah strategis FEB UB ini membuktikan bahwa institusi pendidikan memiliki kekuatan regulasi dan infrastruktur untuk menciptakan dampak skala besar. Melalui sinergi bersama, ancaman gas metana dapat ditekan, energi dapat dihemat, dan visi keberlanjutan dapat dicapai, karena pada hakikatnya, “Mengelola sampah adalah mengelola manusianya”.
#UB #UniversitasBrawijaya_SDG13 #UniversitasBrawijaya_SDG12 #UniversitasBrawijaya_SDG11 #UniversitasBrawijaya_SDG17 #UBGreenCampus #Sustainability