Mempertegas komitmen terhadap pelestarian lingkungan kampus yang berkelanjutan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) kembali melanjutkan rangkaian workshop pengelolaan sampah pada 15 Juli 2025. Melengkapi bahasan sebelumnya, sesi kali ini menitikberatkan pada strategi dan praktik baik pengelolaan sampah organik.

Berlokasi di Ruang Sidang Utama, Lantai 2, Gedung Dekanat Lama FEB UB, acara ini kembali menyasar elemen kunci penggerak operasional kampus. Peserta yang hadir meliputi tenaga kependidikan (tendik) Tata Usaha (TU), petugas taman, cleaning service, serta perwakilan mahasiswa. Dukungan institusional pada program pelestarian lingkungan ini juga dibuktikan dengan kehadiran Kepala Bagian Tata Usaha, Fajar Andy Kurniawan SE., MM, bersama Kasubbag Umum dan Aset, Anjik Fahrur Huda, S.ST

Pada kesempatan kali ini, FEB UB menghadirkan drg. Dani Sugeng Prasetyo sebagai narasumber utama yang telah berhasil mengelola sampah organik di lingkungannya. Membawa perspektif yang kaya, drg. Dani tidak hanya berbagi ilmu teknis, tetapi juga pengalamannya langsung di lapangan sebagai Ketua RT di wilayah Ketawanggede.

Kawasan Ketawanggede, khususnya wilayah RT yang dipimpin oleh drg. Dani, memiliki peran strategis karena merupakan mitra program prioritas Rektor Universitas Brawijaya. Kemitraan ini menjadikan kehadiran beliau sangat relevan dalam menjembatani sinergi dan kolaborasi aksi nyata terkait praktik pengelolaan lingkungan, tidak hanya di dalam batasan institusi akademik, tetapi juga terintegrasi langsung dengan realitas permukiman masyarakat di sekitar kampus.

Dalam paparannya, drg. Dani menitikberatkan pada penerapan teknik Lubang Resapan Biopori (LRB) sebagai solusi praktis pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga maupun rukun tetangga. Program biopori ini dirancang dengan tiga tujuan utama: menekan volume sampah organik rumah tangga yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), mengolah sampah sisa makanan dan dedaunan secara mandiri menjadi pupuk kompos berkualitas, serta meningkatkan daya resap air tanah guna mencegah genangan atau banjir di area pemukiman.

Metode operasional yang ditawarkan sangat mudah diimplementasikan, baik di lingkungan kampus maupun di rumah masing-masing peserta. Prosesnya diawali dengan pembuatan lubang silindris di dalam tanah yang kemudian diberi pipa penutup. Setelah fasilitas biopori tersedia, langkah krusial selanjutnya adalah pemilahan sampah langsung dari sumbernya, yakni memisahkan sampah organik basah seperti sisa sayur dan buah dari sampah anorganik.

Sampah organik yang telah dipilah tersebut kemudian dimasukkan ke dalam lubang biopori secara berkala. Penambahan materi organik secara rutin ini akan memicu aktivitas organisme tanah, seperti cacing dan mikroorganisme yang secara alami akan mempercepat proses pengomposan di dalam tanah.

Melalui pemaparan edukatif ini, diharapkan seluruh tenaga operasional, mahasiswa, dan staf FEB UB dapat mengadopsi teknik biopori sebagai langkah konkret pengelolaan sampah mandiri, sekaligus memperkuat fondasi perwujudan UB Green Campus yang berwawasan lingkungan.

#UB #UniversitasBrawijaya_SDG112 #UniversitasBrawijaya_SDG11 #UniversitasBrawijaya_SDG6 #UniversitasBrawijaya_SDG15 #UniversitasBrawijaya_SDG17 #UBGreenCampus #Sustainability

Scroll to Top
Skip to content