
MALANG, 20 Mei 2026 – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) terus mematangkan langkahnya dalam meraih akreditasi internasional bergengsi dari Association to Advance Collegiate Schools of Business (AACSB). Sebagai bagian dari komitmen tersebut, FEB UB menyelenggarakan agenda Sosialisasi AACSB yang ditujukan bagi jajaran Tenaga Kependidikan (Tendik) sebagai unsur middle management penting di lingkungan fakultas.
Acara dibuka oleh Project Leader sekaligus Accreditation Coordinator AACSB FEB UB, Ainur Rofiq, Ph.D. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa proses untuk meraih akreditasi AACSB bukanlah perkara mudah, melainkan sebuah perjalanan panjang yang menuntut komitmen tinggi.
“Untuk mendapatkan akreditasi AACSB ini, diperlukan kesiapan yang matang, kesabaran, serta dedikasi yang luar biasa. Akreditasi ini tidak mudah dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Sebagai gambaran, saat ini baru ada empat universitas di Indonesia yang berhasil meraih predikat bergengsi ini,” ujar Ainur Rofiq.
Beliau juga menjelaskan keunikan AACSB dibanding lembaga akreditasi lainnya, yaitu adanya sistem monitoring yang ketat dan rutin dari mentor resmi AACSB. Bahkan, pada bulan Juni mendatang, seorang mentor dijadwalkan akan hadir langsung ke FEB UB untuk melakukan pemantauan dan evaluasi langsung di lapangan.
Peran Strategis Tendik dan Standar Baru Digital Agility 2026
Memasuki sesi pemaparan materi, Vice Accreditation Coordinator AACSB FEB UB, Prof. Putu Mahardika Adi S., SE., M.Si., MA., Ph.D., menggarisbawahi peran krusial bapak dan ibu Tendik. Menurutnya, Tendik memegang peran strategis sebagai middle management yang mengawal operasional pencapaian target-target fakultas.
Prof. Putu menjelaskan struktur dasar yang menjadi ruh dari penilaian AACSB, di mana sebuah misi lembaga memegang posisi paling vital.
“Di dalam AACSB, misi merupakan fundamental—poin paling penting yang merepresentasikan cita-cita awal mengapa institusi ini berdiri. Sementara itu, visi adalah pandangan strategis kita ke depan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. Putu juga menyoroti adaptasi standar kompetensi terbaru yang berlaku secara global. Pada tahun 2026 ini, ketangkasan digital (digital agility) telah bergeser menjadi standar baru yang sangat di-highlight dan menjadi perhatian utama dalam penilaian AACSB. Seluruh komponen fakultas, termasuk lini manajemen menengah, dituntut untuk tanggap dan adaptif terhadap transformasi teknologi digital guna mendukung ekosistem akademik yang unggul.
Melalui sosialisasi ini, seluruh sivitas akademika FEB UB diharapkan dapat menyatukan visi, memperkuat kolaborasi, dan siap menyambut kedatangan mentor AACSB bulan depan demi membawa fakultas menuju panggung rekognisi internasional.